Startup AS Eternime merekam pola bicara, gerakan, dan memori almarhum menggunakan AI, lalu menciptakan avatar digital yang bisa “berbicara” dengan keluarga. Di Tiongkok, Fenxiang AI menghadirkan hologram 3D untuk “menghidupkan” mendiang dalam acara ulang tahun virtual. CEO Fenxiang, Li Wei, menjelaskan: “Avatar ini menjawab pertanyaan berdasarkan data historis almarhum.”

Metaverse Gelar Pemakaman Virtual

Platform MetaMemorial menyelenggarakan upacara pemakaman di metaverse melalui teknologi VR. Keluarga dari 20 negara bisa hadir secara digital, meletakkan bunga virtual di makam NFT, dan mendengarkan rekaman suara almarhum. Startup Korea Selatan Elysium menawarkan streaming 4K dengan efek atmosfer sesuai agama—mulai dari hujan sakura hingga azan digital.

Blockchain Amankan Warisan Digital

LegacyChain dari Singapura menggunakan blockchain untuk mengamankan wasiat digital. Mereka mengenkripsi aset kripto, properti virtual, dan dokumen penting di ledger yang hanya terbuka setelah verifikasi sidik jari biometrik. Di Indonesia, WarisTech mengembangkan algoritme pembagian waris otomatis sesuai hukum adat lokal.

Inovasi Ramah Lingkungan Ubah Ritual

Startup AS Recompose mengubah jenazah menjadi kompos dalam 30 hari melalui proses biologis, menghemat 1,4 ton emisi karbon per pemakaman. Sementara itu, Bios Urn asal Spanyol merancang kapsul biodegradable yang tumbuh menjadi pohon dari abu kremasi. Founder Bios Urn, Roger Moliné, mengklaim: “Kami telah menumbuhkan 12.000 ‘pohon kehidupan’ di 40 negara.”

Pasar Tumbuh, Tantangan Mengemuka

Analis memprediksi industri ini mencapai nilai $1,8 triliun pada 2030. Namun, startup seperti GraveTech di India menghadapi protes kelompok konservatif yang menentang digitalisasi kematian. Regulator Uni Eropa memberlakukan larangan komersialisasi data jenazah tanpa izin keluarga hingga tiga generasi.