Perusahaan AS Northrop Grumman raih kontrak $200 juta dari NASA untuk servis satelit mati di orbit geostasioner. Mereka luncurkan robot Mission Extension Vehicle (MEV-3) yang dukung satelit tua dengan pasang “pendorong cadangan”. Saingannya, startup Jepang Astroscale, uji coba magnet raksasa untuk tarik satelit mati ke atmosfer. “Kami targetkan bersihkan 100 objek sampah antariksa per tahun,” tegas CEO Astroscale, Nobu Okada.
Teknologi Perebut Pasar
Starfish Space asal AS kembangkan drone Otter yang bisa isi ulang bahan bakar satelit di orbit. Sementara China pamer Xingyun-2, satelit servis dilengkapi lengan robotik dan laser penghancur puing. CEO ClearSpace (Swiss), Luc Piguet, ancang strategi: “Kami tawarkan paket langganan bersihkan orbit dengan tarif $60 juta per misi.”
Perang Diplomasi dan Sanksi
AS keluarkan sanksi ke perusahaan Rusia Kosmicheskiy Shchit yang tawarkan servis deorbit satelit mati ke negara “musuh”. Uni Eropa kecam China karena klaim hak eksklusif atas orbit slot 125°BT—jalur strategis untuk satelit komunikasi. “Ini pelanggaran prinsip ‘first come, first served’,” protes Direktur ESA, Josef Aschbacher.
Bisnis Sampingan: Daur Ulang Sampah Antariksa
Startup Orbit Recycling Kanada olah panel surya satelit mati jadi bahan baku stasiun luar angkasa. Lockheed Martin uji coba cetak 3D komponen satelit baru dari logam bekas di orbit. “Kami bisa kurangi biaya peluncuran 70% dengan daur ulang in-situ,” klaim CTO Lockheed, Rick Ambrose.
Tantangan Regulasi dan Masa Depan
Perserikatan Bangsa-Bangsa rancang aturan Space Debris Tax: $20.000 per kilogram sampah yang tak dideorbit. Namun, Rusia dan India tolak proposal ini. Analis prediksi pasar servis satelit mati capai $8 miliar pada 2030, didorong lonjakan mega-konstelasi satelit seperti Starlink dan OneWeb.