GoTo dan Bukalapak mengumumkan merger senilai Rp28 triliun pada 1 April 2025, mengonsolidasikan 158 juta pengguna aktif dan menggeser dominasi pemain asing di pasar e-commerce nasional. Kesepakatan ini menciptakan ekosistem terintegrasi yang menggabungkan layanan Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak dalam satu platform super-app.

Keduanya memperkuat lini logistik dengan mengakuisisi 85% sahaм Saham perusahaan logistik SiCepat, membentuk jaringan distribusi yang menjangkau 98% kecamatan di Indonesia. “Merger ini mempercepat transformasi digital UMKM melalui solusi dari pembiayaan hingga last-mile delivery,” tegas CEO GoTo Andre Soelistyo dalam jumpa pers virtual.

Pasar saham langsung bereaksi: saham BUKA melonjak 22% ke Rp1.850 per lembar, sementara Shopee mengalokasikan dana promosi tambahan Rp1,2 triliun untuk mempertahankan pangsa pasar di kota tier-3. Analis BRI Danareksa Sekuritas memprediksi merger ini akan menekan margin keuntungan kompetitor sebesar 18% pada 2026.

Kementerian Perdagangan mengawasi ketat aspek antitrust melalui audit data transaksi bulanan. Dirjen Perdagangan Inmas Wisnu menegaskan: “Kami memastikan kolaborasi ini tidak mematikan UMKM tradisional.” Di lapangan, supplier tekstil di Tanah Abang mengadopsi fitur cross-platform inventory, memangkas waktu pengiriman dari 72 jam menjadi 12 jam.

Tantangan utama terletak pada integrasi 12 sistem IT warisan. Tim teknisi bekerja 24/7 untuk menyinkronkan database pembayaran digital sebelum soft launch Q3 2025. Mereka juga mempersiapkan ekspansi ke ASEAN dengan membangun hub logistik di Batam dan Johor Bahru.

Merger ini tidak sekadar memperebutkan pasar, tetapi menetapkan standar baru kolaborasi teknologi dalam negeri. Dengan proyeksi GMV gabungan Rp420 triliun pada 2026, kolaborasi GoTo-Bukalapak menjadi katalis percepatan transformasi digital ekonomi Indonesia.